image

“Hallo?”

“Hai Tin. Gimana? Malem ini jadi datang kan?”

“Gugun?”

“Iya. Ini aku. Gimana? Jadi nggak?”

“Hmm.. gimana ya?”

“Loh.. kok gimana?”

“Hmm.. iya deh. Jam tujuh kan?”

“Nah gitu dong. Oke aku tunggu ya. Mama juga udah nggak sabar mau ketemu kamu. Aku jemput ya?”

“Mmm.. gak usah. Aku naik taksi aja.”

“Oke. Sampai nanti ya.”

Fatin hanya tersenyum kemudian mematikan sambungan telepon. Malam nanti adalah malam yang spesial. Ia diundang makan malam oleh sahabat baru sekaligus penulis favoritnya. Gugun pun juga mengidolakan Fatin sebagai penyanyi.  Sebenarnya Fatin sempat berfikir untuk tak jadi datang. Inis, sahabat Fatin yang rencananya ikut menemani, tak bisa datang karena flu. Fatin merasa tak enak hati kalau harus datang sendiri. Tapi, kapan lagi? Bertemu dengan seorang idola. Penulis muda ganteng yang sedang naik daun.

Namanya Gugun Wiguna. Di dunia kepenulisan, dia dijuluki si gagak hitam. Novel horor karangannya selalu jadi best seller. Tulisannya yang gelap dan getir. Cerita-cerita hitam yang menakutkan. Kisah pembantaian, pembunuhan, adegan-adegan sadis yang kadang membuat pembaca merasa mual. Tapi itulah yang justru mengangkat namanya. Rangkaian cerita yang begitu detil. Bagaimana tetes demi tetes darah itu merasuk ke dalam ruang imajinasi pembaca. Mereka seakan menyaksikan. Serasa menjadi pelaku sekaligus korban dalam cerita-cerita tersebut.

***************

Secara penampilan memang tak ada yang menyangka kalau Gugun-lah sang penulis di balik novel-novel sadis itu.  Ia terlalu rapi untuk seorang penulis apalagi novelis horor. Kulitnya putih bersih. Wajahnya tampan. Rambutnya cepak dan berkacamata. Ia lebih mirip pemain sinetron atau bintang iklan.

Tapi, Gugun memang sedikit terkesan misterius. Para wartawan tak pernah diperbolehkan datang apalagi diundang ke kediamannya. Tak ada yang boleh meliput keluarganya atau sesiapa yang ada di rumah itu. Ini semakin membuat Fatin penasaran sekaligus kebanggaan untuk bisa datang dan makan malam di sana.

***************

Fatin memencet bel. Gerimis mulai turun. Sedari tadi, Jakarta memang dinaungi mendung. Tak lama seseorang  membukakan pintu. Bukan Gugun melainkan seorang wanita tua yang renta. Ia tersenyum datar dan mempersilahkan Fatin masuk. Tidak seperti yang ada di pikiran Fatin. Tak ada sambutan yang meriah dan hangat. Rumah ini sepi-sepi saja.

“Nenek…..?”

“Iya. Saya neneknya Gugun.”

“Ooo. Oh ya, Gugun-nya mana ya nek?” Tanya Fatin mencoba ramah.

“Dia di ruang bawah tanah.”

“Bawah tanah?? Ngapain nek?”

“Ya nulis lah. Dia kan penulis.”

“Iya tapi kok di bawah tanah?”

“Sudah kamu jangan banyak tanya. Tunggu saja. Sebentar lagi dia selesai.”

Fatin sedikit terkejut dengan kata-kata yang dilontatkan wanita tua itu. Tapi ia mencoba maklum. Mungkin karakter nenek Gugun memang seperti itu.

Rumah itu sepi dan sunyi. Tak ada suara TV atau suara-suara yang lain. Tak tampak orang tua Gugun atau saudara-saudaranya.

Sembari menunggu Gugun, Fatin memilih melihat foto-foto yang terpajang di sepanjang dinding rumah berlantai tiga itu. Sebuah foto keluarga berukuran besar menarik perhatian Fatin. Ada yang aneh dan ganjil. Semua orang di dalam foto itu terlihat murung kecuali Gugun dan neneknya. Ayahnya, ibunya dan tiga orang saudaranya yang lain tampak sedang sedih saat foto itu diambil.

“Mbak.”

Fatin tiba-tiba dikagetkan dengan suara seseorang tepat di belakangnya.

“Iya.”

“Mas Gugun ada di bawah. Mbak susul aja. Soalnya mas Gugun kalo nulis kadang bisa lama.”

“Oh..  gitu ya. Lewat mana?”

“Di situ mbak.” Perempuan itu menunjuk ke arah sebuah lorong yang keliatan agak gelap.”

“Oh oke. Makasi ya. Oh ya kak, kakak siapanya Gugun?”

“Saya pembantunya mbak.”

“Ooh.. keluarga Gugun pada kemana ya kak?”

Perempuan itu tak menjawab apa-apa. Ia lalu buru-buru pamit ke belakang.

***************

Fatin menyimpan segala keheranannya dan spontan mengikuti lorong itu. Hanya lampu hias redup yang menerangi sepanjang sisinya. Di ujungnya, ada tangga memutar menuju ruang bawah tanah. Semakin ke bawah, jumlah lampu yang menerangi semakin sedikit. Semakin gelap dan redup.

Di tangga terakhir, Fatin mendapati sebuah pintu menuju ruangan tunggal yang keliatannya tak begitu besar. Entah kenapa Fatin ingin membuka pintu itu pelan-pelan. Ia tak ingin mengganggu konsentrasi Gugun.

Dengan sangat hati-hati, Fatin mengintip dari sedikit celah pintu yang sudah terbuka. Ia melihat seseorang sedang duduk di sebuah meja dengan laptop di atasnya. Di dalam, keadaannya sama saja. Hanya lampu bercahaya redup yang mengantung di langit-langit ruangan. Di tambah  cahaya dari nyala layar laptop. Itu Gugun. Ia tampak sibuk mengetik dan sesekali menghisap rokoknya dalam-dalam.

Tunggu….  apa itu?

Samar-samar Fatin menangkap gerak gerik seorang perempuan yang terikat kencang di sebuah ranjang. Mulutnya disumpal hingga yang terdengar hanya jeritan tertahan. Ia terus menggelinjang ketakutan. Entah apa yang dilakukan Gugun terhadapnya.

Fatin masih bertahan di posisinya. Jantungnya seakan berhenti berdetak menunggu apa yang mungkin akan ia saksikan. Pikirannya kacau. Tentang Gugun dan ruangan ini.

Gugun tiba-tiba berdiri dari bangkunya. Membuka laci dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam. Gugun membukanya pelan-pelan dan kemudian mengeluarkan isinya satu persatu. Itu terlihat seperti seperangkat pisau bedah. Namun ada juga benda-benda seperti tang dan obeng. Untuk apa semua itu? Imajinasi Fatin makin menghitam. Ia menajamkan penglihatannya.

Gugun mendekati perempuan itu. Di tangannya, sebuah pisau dan tang.
Perempuan itu terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangisnya deras dibalik suaranya yang tersumpal.

Perlahan-lahan Gugun mengiris daging pipinya. Memotongnya agak dalam kemudian mencabuti dagingnya dengan tang. Darah mulai mengalir kencang. Gugun melihatnya sebentar. Memperhatikannya dengan seksama kemudian kembali ke depan laptop. Gugun mengetik beberapa kalimat. Sesekali melihat ke arah si wanita yang masih menjerit-jerit kesakitan. Darah dari pipi si perempuan yang kini berlubang, mengalir deras hingga meleleh ke lantai.

Gugun kembali meninggalkan mejanya. Kali ini ia mengambil sesuatu di bawah ranjang. Fatin reflek menutup mulutnya kuat-kuat melihat Gugun menyalakan sebuah benda mirip mesin bor tembok. Perempuan di ranjang tampak meronta dengan sisa-sisa tenaganya.

Gugun membelai rambut perempuan malang itu. Ia juga mengelus keningnya. Kemudian Gugun menekan wajahnya dengan kuat dan mulai mengarahkan mesin bor ke bola matanya. Perempuan itu makin meronta. Mencoba melepaskan diri sebelum ujung bor itu mencapai korneanya.  Fatin tak berani melihat. Ia membuang penglihatan sembari sekuat tenaga menahan dirinya untuk tak menimbulkan suara.

Perempuan itu mengeluarkan erangan yang panjang. Mesin bor  menembus bola matanya hingga otak. Darah tampak berhamburan ketika mata bor itu masuk semakin dalam. Wajah Gugun tampak penuh cipratan darah.

“Prak”

Fatin sudah tak tahan. Ia menutup pintu dan segera berlari kembali ke lantai atas. Gugun mematikan mesin bornya. Ia sadar ada seseorang yang masuk diam-diam ke ruang kerjanya.

 

***************

Fatin dengan sekuat tenaga menaiki setiap anak tangga menuju lantai atas. Tangisnya tumpah seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. Batinnya masih tak dapat mencerna jika semua novel sadis yang ditulis Gugun berdasarkan kisah nyata. Ia melakukan penyiksaan itu untuk kemudian ditulis dan diterbitkan. Mungkin inilah alasan kenapa setiap adegan sadis di novel Gugun terlihat begitu detil dan nyata.

Semua lampu padam saat Fatin berhasil mencapai lantai atas. Ia meraba-raba sakunya.

“Hape hape…. sial! Hape ku mana!?”

Fatin panik, sekitarnya gelap total. Ia berjalan perlahan sambil meraba-raba sekeliling. Ia tak mengerti kemana semua orang. Ibu Gugun? Adik-adiknya? Neneknya? Pembantunya? Kemana mereka? Pikiran Fatin benar-benar berkecamuk. Yang ia lakukan hanyalah bagaimana menemukan pintu depan dan keluar dari rumah ini.

“Fatin! Fatin! Itu kamu ya? Ha? Kamu sudah datang?”

Fatin mempercepat langkahnya saat dari kejauhan Gugun memanggil-manggil namanya.

Hujan turun semakin deras. Suara petir menggetarkan jendela-jendela. Kilat sesekali menembus kaca dan menerangi seisi rumah. Itu sedikit membantu Fatin mencapai pintu depan.

***************

Sosok itu tiba-tiba mencengkram leher Fatin saat pintu sudah terbuka. Fatin mencoba melepaskan diri. Sebuah cahaya kilat  membuat wajah sosok itu memantul jelas di bola mata Fatin.

“Nek.. akhh.. kenapa nek? Lepasin! Lepasin!”

Wanita tua itu hanya diam. Sorot matanya masih setajam tadi. Cengkraman tangannya semakin kuat. Fatin tak mengerti kenapa ia kalah kuat dengan wanita renta itu. Ia seakan tak berdaya.

Dan tiba-tiba…

Fatin merasakan sesuatu menghujam bagian tubuhnya dari belakang. Sebatang linggis besi menembus perutnya.  Darah segar menyembur deras dari mulutnya. Fatin terkapar, samar-samar ia melihat Gugun tersenyum lalu tertawa.

“Tin, kamu akan jadi bagian dari novel terbaruku hahaha.”

Pandangan Fatin semakin kabur lalu menghitam.

Sesaat kemudian….

Fatin dibangunkan oleh suara getar dan dering ponselnya.

“Astagfirullah. Huh! Mimpi! Ini cuma mimpi!”

Fatin mengusap wajahnya yang penuh keringat. Di layar ponsel nama Inis terlihat masih berkedip-kedip.

“Hallo Nis?”

“Lo kemana aja sih Tin dari tadi gue telponin.”

“Sorry.. sorry.. gue ketiduran.”

“Oh ya.. ntar malem gue kayaknya gak jadi ikut deh ketemu Gugun. Gue mendadak nggak enak badan nih Tin. Flu juga.”

“Ya udah deh. Lo istirahat aja. Nggak apa-apa kok.”

“Bener nih nggak apa-apa?”

“Iyaa.. Koalaaa…”

“Hehe.. ya udah.. bye yaa”

Fatin tercenung. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Kenapa semua ini berjalan seperti di dalam mimpinya? Inis tak jadi ikut karena flu. Dan…

Belum sempat berpikir lebih panjang, ponsel Fatin kembali berdering.

“Halo?”

“Hai Tin. Gimana? Malem ini jadi datang kan?”

“Gugun?”

“Iya. Ini aku. Gimana? Jadi nggak?”

Fatin mematikan sambungan telepon. Mendadak sekujur tubuhnya merinding. Badannya terasa lemas.

T A M A T

Fan Fiction Fatin Shidqia Lubis
Genre : Horror – Thriller

Spesial untuk ulang Tahun Fatin Shidqia Lubis yang ke- 17 tanggal 30 Juli 2013.

Penulis : @OrangMars

Iklan